Operasi (pembedahan) merupakan salah satu prosedur medis paling penting dalam dunia kesehatan modern. Namun setiap kali ada berita pasien meninggal setelah operasi, masyarakat langsung bertanya-tanya: “Mengapa bisa terjadi?” dan “Benarkah banyak orang meninggal setelah operasi?”
Kenyataannya, sebagian besar operasi berjalan aman dan memiliki tingkat keberhasilan sangat tinggi. Kematian pascaoperasi sering kali bukan disebabkan oleh operasinya itu sendiri, tetapi oleh kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, komplikasi pascaoperasi, atau respons tubuh terhadap stres bedah.
Artikel ini akan membahas secara mendalam penyebab kematian setelah operasi, data medis, komplikasi yang paling sering terjadi, serta faktor risiko yang jarang dipahami masyarakat awam.
Mengapa Banyak Orang Meninggal Setelah Operasi
Operasi bukan sekadar tindakan memotong atau memperbaiki jaringan tubuh. Prosedur ini melibatkan banyak sistem tubuh sekaligus, seperti jantung, paru-paru, ginjal, pembuluh darah, hormon, dan sistem imun. Semua organ tersebut harus bekerja harmonis selama operasi dan masa pemulihan.
Gambaran umum risiko operasi
Secara statistik, angka kematian pascaoperasi tergolong rendah. WHO dan jurnal kedokteran internasional mencatat bahwa tingkat kematian pascaoperasi global berkisar antara 0,5% hingga 1% untuk operasi besar. Namun risiko meningkat pada pasien dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, diabetes, penyakit ginjal, atau usia lanjut.
Mengapa masyarakat merasa banyak yang meninggal
Walaupun angka kematian sebenarnya rendah, kasus yang viral membuat masyarakat merasa bahwa kematian setelah operasi terjadi sangat sering. Padahal fakta ilmiah menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan bedah modern sangat tinggi dibandingkan era sebelumnya.
Faktor Risiko Pasien Sebelum Operasi
Sebelum operasi dilakukan, dokter selalu mengevaluasi kondisi pasien secara menyeluruh. Tahap ini disebut preoperative assessment. Faktor-faktor risiko yang ditemukan pada tahap ini sangat menentukan apakah pasien berisiko mengalami komplikasi berat atau tidak.
Penyakit jantung
Pasien dengan penyakit jantung koroner, gagal jantung, atau aritmia memiliki peluang lebih tinggi mengalami komplikasi serius. Selama operasi, tekanan darah dapat berubah drastis dan kebutuhan oksigen meningkat. Pada pasien yang pembuluh darahnya sempit, hal ini dapat memicu serangan jantung.
Diabetes mellitus
Gula darah tinggi dapat memperlambat penyembuhan luka, meningkatkan risiko infeksi, dan menyebabkan gangguan pembuluh darah. Pasien diabetes memiliki kemungkinan lebih besar mengalami infeksi pascaoperasi atau sepsis.
Penyakit ginjal dan hati
Ginjal dan hati berfungsi memetabolisme obat-obatan termasuk anestesi. Bila salah satu organ ini rusak, obat menumpuk dalam tubuh sehingga memicu keracunan, gangguan pernapasan, atau pendarahan.
Usia lanjut dan frailty
Frailty adalah kondisi kerentanan tubuh yang sangat tinggi, terutama pada usia lanjut. Pasien lansia lebih mudah mengalami komplikasi karena cadangan fisik terbatas, sistem imun lemah, dan pemulihan lebih lambat.
Obesitas
Obesitas membuat operasi menjadi lebih kompleks, memperbesar risiko anestesi, menghambat pernapasan, dan meningkatkan kemungkinan terjadinya penggumpalan darah pada kaki.
Komplikasi Jantung Pasca Operasi
Komplikasi jantung merupakan penyebab kematian paling sering setelah operasi. Hal ini terutama terjadi pada 48–72 jam setelah tindakan.
Serangan jantung (Myocardial Infarction)
Serangan jantung pascaoperasi terjadi ketika pembuluh darah jantung tidak mampu mengalirkan cukup oksigen. Gejalanya sering tidak khas karena pasien masih dalam kondisi pemulihan dan menggunakan obat penghilang nyeri.
Aritmia
Detak jantung tidak teratur bisa dipicu oleh stres tubuh, perubahan cairan, atau efek obat anestesi. Bila aritmia terjadi pada ventrikel, kondisi ini bisa mengancam nyawa.
Gagal jantung akut
Jantung dapat melemah jika harus bekerja terlalu keras selama dan setelah operasi. Pasien dengan riwayat gagal jantung memiliki risiko lebih besar mengalami penurunan fungsi jantung setelah tindakan.
Penggumpalan Darah dan Emboli Paru
Penggumpalan darah atau venous thromboembolism (VTE) menjadi salah satu penyebab kematian mendadak setelah operasi.
Deep Vein Thrombosis (DVT)
DVT terjadi ketika darah menggumpal di vena kaki akibat kurang bergerak. Pasien yang berbaring lama setelah operasi sangat rentan mengalami kondisi ini.
Emboli paru
Jika bekuan darah dari kaki naik ke paru-paru, pembuluh darah paru dapat tersumbat. Hal ini menyebabkan kegagalan napas dan henti jantung dalam hitungan menit.
Karena banyak kematian pascaoperasi berkaitan dengan gangguan pembuluh darah dan jantung, artikel saya tentang stroke bisa menjadi rujukan tambahan yang mengulas bagaimana trombosis dan embuli bisa muncul tanpa gejala jelas. Di sana Anda akan menemukan mekanisme “silent killer” yang mirip dengan beberapa komplikasi pascaoperasi, terutama terkait pembekuan darah dan kerusakan vaskular. Membaca kedua artikel secara beriringan akan memberi pemahaman lebih luas tentang bagaimana tubuh bisa menghadapi risiko besar setelah bedah.
Infeksi Pasca Operasi
Infeksi merupakan penyebab kematian yang sering terjadi beberapa hari setelah operasi, terutama pada pasien dengan imun lemah.
Infeksi luka operasi
Infeksi dapat terjadi jika bakteri masuk ke luka. Luka yang terinfeksi dapat membengkak, mengeluarkan nanah, dan menyebabkan peradangan berat.
Pneumonia
Kurang bergerak dan penggunaan obat anestesi dapat menurunkan kemampuan paru-paru membersihkan lendir. Akibatnya, bakteri mudah tumbuh dan menyebabkan pneumonia.
Sepsis
Sepsis terjadi ketika infeksi menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan kegagalan organ. Kondisi ini sangat berbahaya dan fatal bila tidak segera ditangani.
Komplikasi Terkait Anestesi
Anestesi modern sangat aman, namun komplikasi tetap dapat terjadi terutama pada pasien dengan alergi, penyakit paru, atau gangguan ginjal.
Reaksi alergi obat
Dalam kasus alergi berat, tekanan darah dapat turun drastis, pernapasan terganggu, dan henti jantung dapat terjadi.
Depresi pernapasan
Efek samping obat bius dapat bertahan lebih lama pada pasien tertentu, menyebabkan napas menjadi sangat lambat atau berhenti tanpa disadari.
Malignant hyperthermia
Kondisi langka namun mematikan yang menyebabkan suhu tubuh melonjak tajam saat terpapar anestesi tertentu.
Pendarahan Internal
Pendarahan dapat terjadi jika pembuluh darah tidak tertutup dengan sempurna atau jika pasien memiliki gangguan pembekuan darah.
Syok hipovolemik
Jika darah keluar terlalu banyak, tekanan darah turun drastis dan organ tidak mendapatkan oksigen cukup. Ini bisa mengakibatkan kegagalan organ secara cepat.
Gagal Organ Multipel
Gagal organ multipel (multiple organ dysfunction syndrome/MODS) merupakan kondisi ketika beberapa organ berhenti berfungsi setelah operasi.
Organ yang sering gagal
Organ yang paling sering terdampak adalah jantung, ginjal, paru-paru, dan hati. MODS biasanya terjadi pada pasien dengan infeksi berat, kehilangan darah besar, atau pasien yang sudah kritis sebelum operasi.
Mengapa Kematian Terjadi Beberapa Hari Setelah Operasi
Banyak kematian pascaoperasi tidak terjadi saat tindakan berlangsung, tetapi setelah operasi selesai.
Komplikasi tertunda
Komplikasi seperti serangan jantung, emboli paru, infeksi, atau efek anestesi sering muncul antara 48–72 jam setelah operasi. Inilah sebabnya pasien harus dipantau ketat dalam 3 hari pertama.
Cara Mencegah Kematian Pasca Operasi
Pencegahan dilakukan dalam tiga tahap utama: sebelum operasi, selama operasi, dan setelah operasi.
Sebelum operasi
Pasien harus melakukan pemeriksaan lengkap, termasuk tes darah, EKG, dan kontrol penyakit penyerta seperti diabetes atau hipertensi.
Saat operasi
Pemilihan rumah sakit, dokter, dan teknik operasi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan.
Setelah operasi
Mobilisasi dini, perawatan luka yang baik, dan kewaspadaan terhadap tanda-tanda infeksi sangat penting. Pasien harus segera mencari bantuan medis jika mengalami demam tinggi, sesak napas, nyeri dada, atau pembengkakan kaki.
Penutup
Kematian setelah operasi bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba atau tanpa alasan. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari kondisi pasien sebelum operasi, komplikasi jantung, penggumpalan darah, infeksi, reaksi anestesi, hingga gagal organ. Operasi modern sebenarnya aman dan sebagian besar pasien pulih tanpa masalah. Namun risiko tetap ada, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta atau tidak dipantau dengan baik setelah tindakan.
Memahami penyebab kematian pascaoperasi membantu pasien dan keluarga lebih tenang, lebih waspada, dan lebih siap menghadapi proses pembedahan. Edukasi medis yang benar sangat penting agar masyarakat tidak hanya menilai risiko berdasarkan berita viral, tetapi berdasarkan data ilmiah yang akurat.
