Kemarau bukan persoalan kecil ketika berlangsung lama. Air yang semakin sulit diperoleh dapat memengaruhi rumah tangga, pertanian, peternakan, kesehatan masyarakat, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan.
Bagi seorang Muslim, keadaan seperti ini juga dapat menimbulkan pertanyaan batin. Apakah kekeringan hanya fenomena alam? Apakah dosa manusia dapat menjadi sebab datangnya kesulitan? Apakah ini ujian, peringatan, atau bahkan azab?
Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu.
Islam tidak mengajarkan manusia mengabaikan penyebab alamiah suatu kejadian. Namun Islam juga mengingatkan agar setiap kesulitan menjadi kesempatan untuk mengevaluasi hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam.
Jawaban Singkat
Dalam Islam, dosa, kezaliman, dan kerusakan yang dilakukan manusia memang dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan atau munculnya akibat buruk. Namun tidak ada dasar bagi kita untuk memastikan bahwa kemarau panjang Indonesia tahun 2026 secara khusus merupakan azab Allah karena dosa tertentu.
Kemarau 2026 memiliki penyebab meteorologis yang dapat diamati secara ilmiah. Pada saat yang sama, seorang Muslim dapat menjadikannya sebagai momentum untuk bertaubat, memperbanyak istighfar, memohon hujan kepada Allah, memperbaiki perilaku, menjaga lingkungan, menghemat air, serta membantu mereka yang terdampak.
Musibah juga tidak selalu berarti hukuman. Dalam Al-Qur’an, kesulitan dapat menjadi ujian bagi orang beriman.
Seberapa Serius Kemarau Indonesia pada 2026?
Kondisi kering tahun 2026 memang nyata dan terukur.
Berdasarkan analisis BMKG untuk Dasarian II Agustus 2026, 79,9 persen Zona Musim Indonesia atau 559 ZOM telah mengalami musim kemarau.
Pada periode yang sama, sekitar 90,29 persen wilayah yang dianalisis mengalami curah hujan kategori rendah, sementara 88,61 persen memiliki sifat hujan di bawah normal.
BMKG juga mencatat nilai anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 sekitar +2,99°C, yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa musim kering tahun ini terasa berat di banyak daerah.
BMKG sebelumnya juga memperkirakan puncak musim kemarau di banyak wilayah Indonesia terjadi pada Agustus 2026 dan durasi musim kemarau di banyak Zona Musim berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normalnya.
Jadi, terdapat faktor iklim yang jelas dan dapat dipelajari.
Kalau Ada El Niño, Apakah Berarti Tidak Ada Hubungannya dengan Allah?
Tidak.
Menyebut El Niño sebagai salah satu penyebab kemarau bukan berarti mengeluarkan Allah dari penjelasan mengenai alam.
Dalam Islam, manusia dianjurkan mempelajari sebab.
Ketika seseorang sakit, ia dapat mencari penyebab penyakit dan berobat kepada dokter sambil tetap meyakini kesembuhan berada dalam kekuasaan Allah.
Demikian pula dengan hujan.
Manusia dapat mempelajari suhu laut, angin, tekanan atmosfer, monsun, awan, dan siklus iklim sambil tetap meyakini bahwa seluruh sistem tersebut merupakan bagian dari ciptaan dan ketetapan Allah.
Dengan kata lain:
ilmu pengetahuan menjelaskan prosesnya, sedangkan iman mengajarkan bagaimana manusia memaknai dan menyikapinya.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Apakah Dosa Manusia Bisa Menjadi Sebab Datangnya Kesulitan?
Al-Qur’an menunjukkan bahwa tindakan manusia memang dapat menimbulkan konsekuensi.
Salah satu ayat yang paling sering dibicarakan dalam konteks ini adalah QS. Ar-Rum ayat 41. Ayat tersebut menjelaskan bahwa kerusakan telah tampak di darat dan laut akibat perbuatan manusia sehingga mereka merasakan sebagian akibat dari apa yang mereka kerjakan agar mereka kembali.
Ayat tersebut memberikan pelajaran penting.
Manusia bukan makhluk yang hidup tanpa konsekuensi.
Keserakahan, kezaliman, perusakan alam, pencemaran, dan berbagai tindakan tidak bertanggung jawab dapat menghasilkan dampak yang akhirnya kembali kepada manusia sendiri.
Majelis Ulama Indonesia juga menjelaskan bahwa bencana tidak seharusnya dipandang secara tunggal hanya sebagai azab. Sebagian peristiwa terjadi karena proses alam, sedangkan sebagian kerusakan ekologis dapat berkaitan dengan tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Karena itu, istilah “perbuatan tangan manusia” tidak harus selalu dipahami secara abstrak.
Ada bentuk yang sangat nyata.
Hutan yang ditebang tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dapat mengurangi kemampuan tanah menyimpan air.
Daerah resapan yang rusak dapat membuat cadangan air berkurang.
Sungai dan sumber air yang tercemar dapat menghilangkan akses air bersih.
Pengambilan air tanah yang berlebihan juga dapat menimbulkan masalah.
Ketika manusia melakukan kerusakan seperti itu, konsekuensinya dapat dirasakan masyarakat luas.
Takwa dan Keberkahan dalam Al-Qur’an
QS. Al-A’raf ayat 96 menjelaskan bahwa seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi.
Ayat tersebut menunjukkan hubungan antara ketakwaan dan keberkahan.
Namun kita harus berhati-hati dalam menerapkannya.
Ayat itu tidak memberi kita hak untuk menyimpulkan:
“Daerah yang sedang kekeringan berarti penduduknya lebih banyak berdosa.”
Kesimpulan seperti itu terlalu jauh.
Kita tidak mengetahui keadaan setiap manusia di hadapan Allah.
Orang yang taat dapat mengalami musibah.
Orang yang bermaksiat juga dapat menikmati kelapangan dunia.
Karena itu, ketika musibah datang, Islam lebih mendorong seseorang melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri daripada mencari orang lain untuk disalahkan.
Pembaca yang ingin memperdalam refleksi mengenai perbaikan diri dapat menjelajahi panduan Spiritualitas & Self-Improvement di Summase.org.
Istighfar, Ampunan, dan Hujan dalam Kisah Nabi Nuh
Hubungan antara istighfar dan keberkahan juga dapat ditemukan dalam QS. Nuh ayat 10–12.
Nabi Nuh menyeru kaumnya agar memohon ampun kepada Allah. Dalam rangkaian ayat berikutnya disebutkan hujan, harta, anak-anak, kebun, dan sungai sebagai bagian dari karunia Allah.
Pesannya tidak berarti bahwa istighfar merupakan tombol otomatis untuk mengubah cuaca.
Istighfar jauh lebih dalam daripada itu.
Istighfar merupakan pengakuan manusia bahwa dirinya memiliki kekurangan dan membutuhkan ampunan Allah.
Dalam keadaan sulit, seorang Muslim tidak hanya melihat keluar dan menanyakan kesalahan masyarakat.
Ia juga melihat ke dalam dirinya sendiri:
Apa yang perlu diperbaiki?
Adakah kewajiban yang diabaikan?
Adakah hak orang lain yang pernah diambil?
Adakah hubungan yang perlu diperbaiki?
Adakah nikmat Allah yang selama ini digunakan secara berlebihan?
Muhasabah seperti inilah yang membuat musibah memiliki nilai spiritual.
Apakah Kemarau 2026 Berarti Azab Allah?
Kita tidak dapat memastikan demikian.
Al-Qur’an memang menceritakan beberapa kaum terdahulu yang mendapatkan azab akibat kedurhakaan mereka.
Namun kita mengetahui bahwa peristiwa-peristiwa tersebut merupakan azab karena Allah memberitahukannya melalui wahyu.
Tidak ada wahyu yang menyatakan:
“Kemarau Indonesia tahun 2026 merupakan azab karena dosa tertentu.”
Karena itu, kita tidak seharusnya berbicara seolah-olah mengetahui maksud Allah secara pasti.
Pernyataan yang lebih bertanggung jawab adalah:
Kemarau dapat menjadi momentum peringatan dan muhasabah. Ia dapat menjadi ujian, dapat memiliki konsekuensi yang berkaitan dengan tindakan manusia, dan dapat mengandung hikmah yang tidak seluruhnya kita ketahui.
Musibah Tidak Selalu Berarti Hukuman
QS. Al-Baqarah ayat 155 memberikan perspektif yang sangat penting.
Allah menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan sebagian rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan hasil tanaman, kemudian memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
Perhatikan bahwa ayat tersebut menggunakan konsep ujian.
Artinya, penderitaan yang dialami seseorang tidak otomatis menjadi bukti bahwa Allah sedang menghukumnya.
Seorang petani yang kehilangan hasil panen karena kekeringan tidak boleh langsung dianggap sedang dihukum karena dosa.
Sebuah keluarga yang kesulitan mendapatkan air tidak boleh dituduh sedang menerima balasan maksiat.
Bisa jadi justru dalam kesulitan tersebut terdapat ujian kesabaran, peningkatan derajat, atau hikmah lain yang hanya diketahui Allah.
Mengapa Orang Baik Juga Bisa Ikut Terkena Dampaknya?
Dampak suatu masalah dapat meluas jauh melampaui orang yang menjadi penyebabnya.
Secara sosial dan ekologis, hal ini mudah dipahami.
Jika satu kawasan hutan rusak, masyarakat di wilayah lain dapat mengalami perubahan aliran air.
Jika sumber air tercemar oleh sekelompok orang, ribuan orang dapat kehilangan air bersih.
Jika pengelolaan suatu wilayah buruk, orang yang tidak terlibat dalam pengambilan keputusan pun dapat terkena akibatnya.
Al-Qur’an dalam QS. Al-Anfal ayat 25 juga memberikan peringatan mengenai fitnah yang dampaknya tidak hanya mengenai orang-orang zalim.
Hal ini seharusnya membuat kita semakin berhati-hati.
Kita hidup dalam sistem yang saling terhubung.
Perbuatan seseorang dapat berdampak kepada orang lain.
Karena itulah Islam menempatkan tanggung jawab sosial sebagai sesuatu yang sangat penting.
Dosa Bukan Hanya Masalah Ibadah Pribadi
Ketika membicarakan dosa, sebagian orang langsung membayangkan pelanggaran ibadah pribadi.
Padahal dalam Islam, kezaliman terhadap manusia dan kerusakan terhadap kehidupan juga merupakan persoalan serius.
Contohnya antara lain:
- mengambil hak orang lain;
- korupsi;
- menipu;
- merusak sumber kehidupan masyarakat;
- mencemari sumber air;
- merusak hutan tanpa tanggung jawab;
- membakar lahan secara berbahaya;
- menggunakan sumber daya secara berlebihan;
- membiarkan masyarakat rentan menghadapi kesulitan ketika kita mampu membantu.
Karena itu, taubat menghadapi bencana ekologis seharusnya tidak berhenti pada ucapan.
Taubat harus menghasilkan perubahan perilaku.
Jika manusia memohon ampun sambil terus melakukan kerusakan yang sama, ada bagian penting dari perbaikan yang belum dilakukan.
Kemarau dan Tanggung Jawab Manusia Menjaga Lingkungan
QS. Ar-Rum ayat 41 sangat relevan untuk kehidupan modern karena manusia sekarang memiliki kemampuan jauh lebih besar untuk mengubah lingkungan dibandingkan masyarakat pada masa lalu.
Manusia dapat membuka hutan dalam skala luas.
Manusia dapat mengubah aliran air.
Manusia dapat mengeksploitasi air tanah.
Manusia dapat membangun kota yang menutup sebagian besar daerah resapan.
Semua tindakan tersebut dapat mempunyai konsekuensi.
Karena itu, menjaga bumi bukan sekadar urusan pecinta lingkungan.
Bagi seorang Muslim, bumi adalah amanah.
Mengurangi kerusakan, menjaga sumber air, dan mempertimbangkan keberlanjutan adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebagai penghuni bumi.
Kekeringan Sangat Terasa di Sektor Pertanian
Salah satu kelompok yang paling cepat merasakan musim kering adalah petani.
Tanaman membutuhkan air dalam jumlah dan waktu yang tepat. Kekurangan air berkepanjangan dapat menghambat pertumbuhan, menurunkan produksi, atau bahkan menyebabkan gagal panen.
Pada padi, misalnya, stres air dapat terlihat dari perubahan kondisi daun dan pertumbuhan tanaman. Pembahasan lapangan mengenai hal tersebut tersedia dalam artikel tanda padi kekurangan air atau kelebihan air.
Namun kemarau juga mengingatkan bahwa keputusan bertani seharusnya mempertimbangkan kondisi iklim.
Petani tidak hanya membutuhkan pupuk dan benih yang baik. Waktu tanam, ketersediaan air, dan informasi cuaca juga menentukan risiko.
Untuk konteks tersebut, Summase.org memiliki panduan waktu tanam padi berdasarkan BMKG yang membahas pentingnya membaca informasi musim sebelum menentukan waktu tanam.
Panduan pertanian lainnya juga dapat ditemukan di hub Pertanian Cerdas & Aset Produktif.
Apa yang Diajarkan Islam Ketika Terjadi Kekeringan?
Islam tidak membiarkan umatnya menghadapi kekeringan hanya dengan rasa takut.
Ada tuntunan untuk memohon pertolongan Allah, salah satunya melalui istisqa’, yaitu memohon hujan kepada Allah.
Dalam hadis sahih terdapat riwayat mengenai Rasulullah SAW yang memohon hujan ketika masyarakat mengalami kekeringan.
Shalat istisqa’ merupakan salah satu bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Teknologi dapat berkembang.
Manusia dapat membangun bendungan.
Irigasi dapat diperbaiki.
Prediksi cuaca semakin canggih.
Namun manusia tetap tidak memiliki kekuasaan mutlak terhadap hujan.
Kesadaran itu bukan alasan untuk pasif.
Justru ia mengajarkan keseimbangan antara doa dan usaha.
Shalat Istisqa’ Tidak Berarti Meninggalkan Ikhtiar
Ada kesalahan jika doa diperlakukan sebagai pengganti tindakan.
Seorang Muslim tidak seharusnya berpikir bahwa setelah melakukan shalat istisqa’, tidak diperlukan lagi usaha menjaga air.
Doa dan ikhtiar bekerja pada wilayah yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Kita berdoa kepada Allah.
Pada saat yang sama kita:
- menghemat air;
- memperbaiki irigasi;
- menjaga mata air;
- membuat cadangan air;
- menjaga hutan dan daerah resapan;
- mengantisipasi kebakaran;
- menyesuaikan pola tanam;
- menggunakan informasi BMKG;
- membantu petani dan masyarakat yang terkena dampak.
Itulah tawakal yang disertai usaha.
Apa yang Bisa Dilakukan Umat Islam Saat Kemarau?
1. Bertaubat
Mulailah dari diri sendiri.
Taubat berarti menyadari kesalahan, menyesal, meninggalkan perbuatan tersebut, dan berusaha tidak kembali melakukannya.
Musibah dapat menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
2. Memperbanyak istighfar
Kisah Nabi Nuh mengajarkan pentingnya memohon ampun kepada Allah.
Istighfar seharusnya dilakukan dengan kesadaran, bukan sekadar pengulangan lisan.
3. Berdoa memohon hujan
Seorang Muslim dapat berdoa agar Allah memberikan hujan yang bermanfaat, cukup, dan tidak mendatangkan bencana.
4. Melaksanakan shalat istisqa’
Ketika kondisi masyarakat membutuhkan hujan, shalat istisqa’ dapat dilaksanakan sesuai tuntunan dan arahan ulama atau otoritas keagamaan setempat.
5. Memperbanyak sedekah
Kemarau tidak dirasakan sama oleh semua orang.
Ada keluarga yang masih dapat membeli air.
Ada petani yang kehilangan penghasilan.
Ada masyarakat yang harus berjalan jauh hanya untuk memperoleh air bersih.
Membantu mereka adalah bentuk ibadah yang nyata.
6. Menghemat air
Menghemat air juga merupakan bentuk syukur.
Gunakan air secukupnya.
Perbaiki kebocoran.
Jangan membiarkan air mengalir tanpa manfaat.
Hindari penggunaan air berlebihan hanya karena merasa persediaannya masih banyak.
7. Menjaga sumber air dan daerah resapan
Mata air, sungai, pepohonan, tanah, dan daerah resapan merupakan bagian dari sistem kehidupan.
Menjaganya jauh lebih murah daripada mencoba memperbaiki kerusakan setelah terjadi krisis.
8. Tidak melakukan pembakaran
Pada musim kemarau panjang, api kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi kebakaran besar.
Karena itu, hindari pembakaran sampah atau lahan yang berisiko menyebar.
9. Membantu petani
Petani termasuk kelompok yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Bantuan dapat berupa akses air, informasi cuaca, pompa, saluran irigasi, penyesuaian waktu tanam, maupun bantuan ekonomi ketika hasil panen terganggu.
10. Mengikuti informasi resmi
Informasi mengenai musim, El Niño, kekeringan, dan prakiraan hujan sebaiknya bersumber dari lembaga resmi seperti BMKG.
Jangan mengambil keputusan penting berdasarkan pesan berantai atau klaim media sosial yang tidak jelas sumbernya.
Jangan Menjadikan Bencana sebagai Alat Menghakimi Korban
Salah satu kesalahan terbesar dalam membicarakan musibah adalah terlalu mudah mengatakan:
“Itu karena banyak maksiat.”
Kalimat seperti itu mungkin terdengar religius, tetapi dapat menjadi bentuk penghakiman jika diarahkan kepada orang tertentu.
Bayangkan seorang petani kehilangan panen setelah bekerja berbulan-bulan.
Kemudian seseorang datang dan berkata bahwa ia mengalami hal tersebut karena dosa.
Kita tidak mengetahui hal itu.
Hanya Allah yang mengetahui keadaan setiap hamba.
Sikap yang lebih baik adalah:
ketika melihat musibah orang lain, bantu mereka; ketika melihat musibah secara umum, evaluasi diri sendiri.
Islam mengajarkan muhasabah, bukan kesombongan spiritual.
Apakah Kemarau Disebabkan Dosa atau El Niño?
Pertanyaan ini sebenarnya menggunakan pilihan yang terlalu sempit.
Keduanya berada pada ranah pembahasan yang berbeda.
El Niño menjelaskan mekanisme iklim.
Sementara pembicaraan mengenai dosa, ujian, peringatan, dan keberkahan merupakan wilayah moral dan spiritual.
Tidak perlu mempertentangkan keduanya.
Contoh sederhananya:
Sebuah daerah dapat mengalami kekeringan karena pola atmosfer dan laut menyebabkan curah hujan berkurang.
Pada saat yang sama, manusia dapat memperparah kerentanan wilayah tersebut melalui kerusakan hutan, buruknya pengelolaan air, atau penggunaan sumber daya yang tidak berkelanjutan.
Dan seorang Muslim tetap dapat melihat keadaan tersebut sebagai momentum untuk kembali kepada Allah.
Ketiga lapisan penjelasan itu dapat hadir bersamaan.
Apakah Manusia Bisa Mengendalikan Hujan?
Kemampuan manusia terbatas.
Teknologi dapat membantu memprediksi cuaca, menyimpan air, memperbaiki irigasi, dan dalam kondisi tertentu melakukan modifikasi cuaca.
Namun teknologi tidak membuat manusia memiliki kekuasaan mutlak atas atmosfer.
Hujan membutuhkan kondisi atmosfer tertentu.
Teknologi modifikasi cuaca juga bukan berarti manusia menciptakan hujan dari langit yang benar-benar tanpa potensi awan.
Kesadaran akan keterbatasan tersebut merupakan pelajaran penting.
Kemajuan teknologi seharusnya membuat manusia semakin bertanggung jawab, bukan semakin sombong.
Kemarau Bisa Menjadi Peringatan untuk Berubah
Daripada terus bertanya:
“Apakah ini azab?”
ada pertanyaan lain yang mungkin lebih berguna:
“Apa yang harus kita perbaiki setelah mengalami ini?”
Jika kemarau membuat kita lebih menghargai air, berarti ada pelajaran.
Jika membuat pemerintah dan masyarakat memperbaiki pengelolaan sumber air, ada perubahan.
Jika membuat manusia berhenti merusak hutan, ada perbaikan.
Jika membuat orang yang mampu membantu mereka yang kesulitan, ada kebaikan.
Jika membuat seseorang kembali berdoa dan bertaubat kepada Allah, ada nilai spiritual.
Dan jika membuat petani lebih mempertimbangkan iklim sebelum menentukan waktu tanam, ada pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman.
Inilah salah satu makna penting dari muhasabah.
Musibah tidak harus membuat manusia berhenti bergerak.
Musibah justru dapat membuat manusia berubah.
Sains dan Agama Tidak Perlu Dipertentangkan
Islam memiliki tradisi panjang dalam menghargai ilmu pengetahuan.
Mempelajari bagaimana El Niño bekerja tidak mengurangi keimanan.
Mempelajari awan tidak menghilangkan Allah.
Mempelajari kesehatan tanaman tidak berarti menolak doa.
Sebaliknya, memahami hukum alam dapat membantu manusia menjalankan amanahnya dengan lebih baik.
Seorang Muslim dapat melihat prakiraan BMKG sebelum menanam padi dan tetap memohon perlindungan Allah.
Ia dapat memperbaiki irigasi sekaligus berdoa meminta hujan.
Ia dapat menanam pohon sekaligus beristighfar.
Itulah keseimbangan antara ilmu, ikhtiar, dan iman.
Penutup
Kemarau panjang 2026 merupakan kondisi nyata yang sedang dialami banyak wilayah Indonesia. Data BMKG menunjukkan sebagian besar Zona Musim Indonesia telah memasuki kemarau, curah hujan rendah mendominasi, dan El Niño pada Agustus 2026 telah mencapai intensitas sangat kuat.
Dari sisi ilmu iklim, terdapat mekanisme alamiah yang menjelaskan mengapa hujan berkurang.
Dari sisi Islam, manusia tetap diajak melihat lebih dalam.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa sebagian kerusakan dapat berkaitan dengan perbuatan manusia dan bahwa iman serta ketakwaan berhubungan dengan keberkahan. Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa manusia akan menghadapi ujian berupa kekurangan dan kesulitan.
Karena itu, tidak tepat memastikan bahwa kemarau Indonesia tahun 2026 merupakan azab akibat dosa masyarakat tertentu.
Kita tidak memiliki dasar untuk membuat vonis tersebut.
Sikap yang lebih tepat adalah menjadikan keadaan ini sebagai momentum untuk:
bertaubat, beristighfar, berdoa, melaksanakan istisqa’, memperbaiki perilaku, menjaga lingkungan, menghemat air, membantu korban kekeringan, dan melakukan ikhtiar berdasarkan ilmu pengetahuan.
Ketika bumi mengering, mungkin pertanyaan terpenting bukan:
“Dosa siapa yang menyebabkan semua ini?”
Tetapi:
“Apakah keadaan ini membuat kita kembali kepada Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih bertanggung jawab menjaga bumi?”
FAQ
Apakah kemarau panjang merupakan tanda Allah murka?
Tidak dapat dipastikan. Dalam Islam, musibah dapat menjadi ujian, peringatan, konsekuensi suatu perbuatan, atau memiliki hikmah lain yang hanya diketahui Allah.
Apakah dosa dapat menyebabkan hilangnya keberkahan?
Al-Qur’an mengajarkan adanya hubungan antara ketakwaan dan keberkahan serta mengingatkan bahwa sebagian kerusakan berkaitan dengan perbuatan manusia. Namun hal itu tidak memberikan hak kepada manusia untuk menuduh korban musibah tertentu sebagai orang berdosa.
Mengapa orang saleh juga bisa terkena kekeringan?
Karena orang beriman juga diuji. Selain itu, dampak kondisi alam dan kerusakan sosial dapat mengenai masyarakat secara luas.
Apakah El Niño buatan manusia?
El Niño merupakan fenomena alami laut-atmosfer di Samudra Pasifik. Kemarau 2026 memiliki hubungan kuat dengan El Niño yang menurut BMKG telah mencapai intensitas sangat kuat pada Agustus 2026.
Apa hubungan kerusakan lingkungan dengan ajaran Islam?
Manusia memiliki tanggung jawab menjaga bumi. Kerusakan terhadap hutan, sungai, sumber air, dan lingkungan dapat berdampak kepada masyarakat serta bertentangan dengan prinsip tidak membuat kerusakan di bumi.
Apa yang dianjurkan Islam ketika terjadi kekeringan?
Umat Islam dapat bertaubat, beristighfar, memperbanyak doa, melaksanakan shalat istisqa’, bersedekah, membantu masyarakat terdampak, menghemat air, dan tetap melakukan upaya mitigasi berdasarkan ilmu pengetahuan.
Apakah shalat istisqa’ menjamin hujan langsung turun?
Shalat istisqa’ adalah bentuk ibadah dan permohonan kepada Allah. Manusia tidak dapat menentukan kapan dan bagaimana Allah mengabulkan doa.
Apakah menggunakan prakiraan cuaca bertentangan dengan tawakal?
Tidak. Mengikuti informasi cuaca merupakan bagian dari ikhtiar. Tawakal bukan meninggalkan sebab, melainkan berusaha secara benar kemudian menyerahkan hasil kepada Allah.
Sumber dan Referensi
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Agustus 2026, 24 Agustus 2026.
- BMKG, Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia, Pemutakhiran Juni 2026, 19 Juni 2026.
- BMKG, Puncak Musim Kemarau Agustus 2026, Perkuat Kesiapan Hadapi Dampak El Niño, 10 Juni 2026.
- Majelis Ulama Indonesia, Bencana Alam, Kerusakan Lingkungan, dan Pengertian Bala’ dalam Al-Qur’an, 14 Desember 2025.
- Al-Qur’an: QS. Ar-Rum: 41; QS. Al-A’raf: 96; QS. Nuh: 10–12; QS. Al-Baqarah: 155; QS. Al-Anfal: 25; QS. At-Taghabun: 11.
- Hadis-hadis sahih mengenai istisqa’ dan permohonan hujan pada masa Rasulullah SAW.
